dikasih?
Mulai satu minggu setelah ujian akhir semester hingga awal masa registrasi untuk semester berikutnya adalah masa-masa yang mendebarkan untuk hampir semua mahasiswa.
Betapa tidak? Dalam rentang waktu itu bermunculan huruf-huruf yang bisa membuat mahasiswa bersorak gembira, bersungut-sungut, marah, hingga bersedih (sampai mungkin diam-diam menitikkan air mata).
Dari hingar-bingar keluarnya nilai mata kuliah, ada pernyataan menarik yang saya dengar dari beberapa mahasiswa: “Aku dikasih nilai X sama Bapak Y di kuliah Z…. Sebel deh!”
“..dikasih..”
Lho.. kok cara berfikirnya begitu ya?
Sejak kapan dosen diberi wewenang untuk ngasih nilai?
Sepanjang yang saya pahami, dalam urusan yang berhubungan dengan nilai dosen memang berwenang untuk menentukan cara evaluasi dan menentukan patokan kelas (indeks) kualitas pencapaian pembelajaran mahasiswa. Dua hal ini biasanya telah disampaikan di awal perkuliahan, sehingga bisa dianggap sebagai kontrak antara dosen dengan mahasiswa.
Jadi, kalau di akhir perkuliahan muncul huruf mutu A, B, C, D, atau E untuk tiap mahasiwa, selayaknya dipandang sebagai hasil evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan oleh tiap mahasiswa sepanjang satu semester itu. Huruf-huruf itu sama sekali bukan dikasih oleh dosen.
Dosen tidak boleh sewenang-wenang memberi indeks mutu kepada mahasiswa. Dosen membantu mahasiswa untuk belajar, kemudian membantu mahasiswa dalam menentukan posisi dirinya dalam kuliah tersebut.
Nilai mutu yang keluar di akhir perkuliahan sebetulnya berasal dari diri mahasiswa sendiri. Nilai itu dikasih oleh dirinya sendiri, bukan oleh dosen. Kalaupun mau sebel, ya sebellah dengan diri sendiri.
Kalau cara berfikir ini yang digunakan, niscaya ungkapan yang muncul saat melihat nilai akan seperti ini: “Alhamdulillah nilaiku X. Aku sekarang tahu posisi pemahaman & kemampuanku dalam bagian ilmu ini. Insya Allah yang akan aku lakukan berikutnya adalah…bla..bla..bla…”
Kalau cara berfikir ini yang digunakan, niscaya tidak akan ada kejadian bujuk-membujuk dosen untuk menaikkan nilai (biasanya sih diujudkan dengan minta tugas tambahan).
.




