mereka tidak butuh belas kasihan
Kalaupun seringkali muncul keluhan “mahasiswa sekarang cenderung semakin manja”, menurut saya salah satu faktor pemicunya justru perlakuan kita (pengelola, dosen, staf admin, asisten dst.) kepada mereka.
Kita masih menggunakan paradigma ‘menyuapi’ saat berinteraksi dengan mereka. Kita masih menganggap mereka sebagai anak kecil yang harus selalu dibantu dalam menyelesaikan masalahnya.
Setiap kali mereka bertanya, selalu kita beri jawaban yang seolah-olah final, sehingga mereka merasa tidak perlu berupaya lagi untuk mencari kelengkapan atau jawaban yang lebih benar.
Setiap kali mereka terpojok karena tidak memperhatikan atau tidak taat aturan, segera saja kita tergopoh-gopoh menerbitkan kebijakan (yang kadang tidak bajik) untuk ‘menyelamatkan’ mereka. Dan lain-lain ’suapan’ untuk mereka.
Kita lakukan itu semua atas nama ‘kasihan’.
Menurut saya (mohon koreksi kalau saya salah), mereka tidak butuh belas kasihan!
Yang mereka butuhkan adalah kasih sayang dan suasana yang kondusif untuk mengembangkan potensi dirinya.
Suasana tentu saja terbentuk dari (antara lain): interaksi dengan orang-orang disekelilingnya (pengelola, dosen, staf admin, asisten, mahasiswa lain, penduduk di lingkungan kampus dll), aturan yang efektif, adil dan tersosialisasikan dengan baik, ketersediaan sarana & prasarana yang memadai, dan budaya lingkungan akademik & non-akademik.
Semua faktor tadi dibangun dengan landasan kasih sayang. Dengan paradigma kasih sayang, justru kita akan sedikit-demi sedikit mengurangi proses ‘menyuapi’. Kita akan perbanyak proses yang mengharuskan mereka secara aktif -dengan motivasi internal- berproses mengembangkan dirinya, sembari menyelesaikan masalah-masalah yang timbul sepanjang perjalanannya.
Bagaimana berbagi kasih sayang dan menciptakan suasana yang kondusif?
he..he.. sementara ini saya melarikan diri dulu dari sergapan pertanyaan seperti ini
.