Feb 18 2010

dikasih?

Mulai satu minggu setelah ujian akhir semester hingga awal masa registrasi untuk semester berikutnya adalah masa-masa yang mendebarkan untuk hampir semua mahasiswa.

Betapa tidak? Dalam rentang waktu itu bermunculan huruf-huruf yang bisa membuat mahasiswa bersorak gembira, bersungut-sungut, marah, hingga bersedih (sampai mungkin diam-diam menitikkan air mata).

Dari hingar-bingar keluarnya nilai mata kuliah, ada pernyataan menarik yang saya dengar dari beberapa mahasiswa: “Aku dikasih nilai X sama Bapak Y di kuliah Z…. Sebel deh!”

“..dikasih..”
Lho.. kok cara berfikirnya begitu ya?

Sejak kapan dosen diberi wewenang untuk ngasih nilai?

Sepanjang yang saya pahami, dalam urusan yang berhubungan dengan nilai dosen memang berwenang untuk menentukan cara evaluasi dan menentukan patokan kelas (indeks) kualitas pencapaian pembelajaran mahasiswa. Dua hal ini biasanya telah disampaikan di awal perkuliahan, sehingga bisa dianggap sebagai kontrak antara dosen dengan mahasiswa.

Jadi, kalau di akhir perkuliahan muncul huruf mutu A, B, C, D, atau E untuk tiap mahasiwa, selayaknya dipandang sebagai hasil evaluasi terhadap apa yang telah dilakukan oleh tiap mahasiswa sepanjang satu semester itu. Huruf-huruf itu sama sekali bukan dikasih oleh dosen.

Dosen tidak boleh sewenang-wenang memberi indeks mutu kepada mahasiswa. Dosen membantu mahasiswa untuk belajar, kemudian membantu mahasiswa dalam menentukan posisi dirinya dalam kuliah tersebut.

Nilai mutu yang keluar di akhir perkuliahan sebetulnya berasal dari diri mahasiswa sendiri. Nilai itu dikasih oleh dirinya sendiri, bukan oleh dosen. Kalaupun mau sebel, ya sebellah dengan diri sendiri.

Kalau cara berfikir ini yang digunakan, niscaya ungkapan yang muncul saat melihat nilai akan seperti ini: “Alhamdulillah nilaiku X. Aku sekarang tahu posisi pemahaman & kemampuanku dalam bagian ilmu ini. Insya Allah yang akan aku lakukan berikutnya adalah…bla..bla..bla…”

Kalau cara berfikir ini yang digunakan, niscaya tidak akan ada kejadian bujuk-membujuk dosen untuk menaikkan nilai (biasanya sih diujudkan dengan minta tugas tambahan).

.


Oct 1 2009

Pembekalan geMasTIK 2009

Kemarin sore saya mendapat undangan untuk ikut serta dalam acara pembekalan kontingen ITTelkom finalis geMasTIK 2009.
Saat WaRek 3 (Pak Imam) memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara, saya cuma tayangkan dua gambar via LCD projector.

pa240203

Kepada para finalis saya katakan (tidak persis benar dengan yang terucap waktu itu),
“Ini adalah foto pemenang geMasTIK 2008, yang naik panggung dan menerima penghargaan pada acara penutupan.

Mulai detik ini saya ingin kalian membayangkan diri kalian adalah salah satu orang yang akan ada di atas panggung tersebut di acara penutupan geMasTIK 2009, berbisik syukur, tersenyum lebar, berteriak girang, sembari mengacungkan papan bertuliskan ‘Juara I’.

Mimpi tidak akan pernah jadi kenyataan tanpa usaha manusiawi dan spiritual.
Saya yakin persiapan kalian sudah 99%. Tidak mungkin tanpa persiapan dan kerja keras kalian bisa masuk final. Tapi masih ada 1% yang bisa menentukan hasil.
Masih ada sekian juta detik yang bisa dimanfaatkan untuk berbenah diri agar Tuhan melihat bahwa kita memang pantas dianugerahi medali emas.

…”

pa240210

“Dengan izin Tuhan dan usaha kita, semoga tahun ini piala bergilir Samyakbya Padesa Widya masih akan tetap berada di kampus kita”
.


Aug 10 2009

jangan kejar IP

Tadi sore bada ashar, saya ditodong Tamami (alumni S1 IF) untuk memberikan wejangan maksimal 30 detik untuk diperlihatkan kepada mahasiswa baru.

“Wejangan yang seperti apa?”, tanya saya.
“Kiat biar IP-nya bisa bagus, Pak”, jawabnya.
Hmmm… susah juga… lha wong saya sendiri waktu kuliah gak pake jurus aneh-aneh.

*Mikiiiir… mikiiiirrr….* (wejangan-nya ditungguin)

“Oke.. gini aja deh….” (akhirnya dapet wangsit juga)
Tamami mempersiapkan handphone-nya untuk ngambil video.
*eng..ing….eeeeng….*

Saya sendiri sebetulnya juga lupa tadi persisnya ngomong apa, tapi intinya kira-kira begini:
Jangan ngejar IP. Anggaplah IP sebagai efek samping.
Saat kuliah kejarlah kompetensi, pengetahuan, kecakapan dst.
Kalau kompetensi, pengetahuan, kecakapan dst. kita dapat, Insya Allah IP akan ngikut

.


Aug 7 2009

diskusi kecil dengan UU 20 thn 2003

Saya ingin garis bawahi beberapa hal (dan berdiskusi kecil) dari kutipan UU no 20 thn 2003.

#1

… mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk …

Saya berasumsi lembaga penyelenggara pendidikan, pendidik dan peserta didik adalah entitas utama yang akan bersinergi untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik.
Jadi syarat utama agar pendidikan dapat berjalan baik adalah suasana belajar dan proses pembelajaran yang kondusif.

Kondusif untuk apa?
Kondusif agar peserta didik secara aktif bisa mengembangkan potensi dirinya.

Dari kalimat singkat di atas saja, setidaknya ada dua topik yang bisa didiskusikan cukup panjang.

Pertama, karena latar belakang, potensi, dan gaya belajar masing-masing peserta didik beragam, apakah itu berarti harus terbangun suasana belajar dan proses pembelajaran sejumlah tipe peserta didik?

Kedua, tanggung jawab terbesar dan aktifitas terbanyak seharusnya ada pada peserta didik, bukan pada pendidik. Peserta didik harus secara sadar dan aktif berupaya untuk mengembangkan potensi dirinya.
Tentu saja pada awalnya ada syarat bahwa peserta didik dibantu oleh pendidik untuk mengenali potensi dirinya berikut ditunjuki jalan untuk mengembangkan potensinya tersebut. Khusus untuk pendidikan tinggi, pendidik selayaknya menempatkan diri sebagai fasilitator dan katalisator bagi proses pengembangan potensi peserta didik.
Masalah besar kita adalah bagaimana menyadarkan dan memotivasi peserta didik dan pendidik untuk melakukan hal tersebut?

#2

… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab …

Ternyata cukup banyak tujuan pendidikan (nasional).
Yang pertama tetap “iman dan takwa”.
“Berilmu dan cakap (terampil)” ternyata hanya sebagian saja dari keseluruhan tujuan.
Jadi tidak benar jika pendidikan hanya fokus pada pengetahuan dan ketrampilan agar lulusan bisa bekerja.

Menurut saya, pendidikan harus bersifat holistik, yang memungkinkan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas lebih baik, menuju manusia paripurna (insan kamil).

“Manusia paripurna” itu yang seperti apa? Bagaimana jalan mencapainya?

Mohon maaf, kapasitas saya belum cukup untuk menjawab pertanyaan itu.

.

{mungkin akan bersambung kapan-kapan}

.


Aug 7 2009

selamat datang…

Hari-hari ini adalah masa pendaftaran mahasiswa baru ITTelkom angkatan 2009.

.
Selamat datang mahasiswa baru ITTelkom.
Selamat datang orang-orang yang akan bersama berupaya menjadi manusia yang lebih baik.

.