Aug 14 2009

“saya yakin tidak salah”

Kemarin saya mengikuti dua acara berkaitan dengan penerimaan mahasiswa baru ITTelkom tahun 2009.
Yang pertama adalah sidang terbuka senat, dimana mahasiswa baru secara resmi dikukuhkan menjadi anggota sivitas akademika ITTelkom oleh ketua senat.
Yang kedua adalah pertemuan dengan orang tua mahasiswa baru.

Merasakan secara langsung berjalan diantara mahasiswa baru yang penuh semangat.
Bertatap muka langsung dengan orang tua mahasiswa.
Menyaksikan langsung binar-binar kebahagiaan dan harapan di mata beliau-beliau.
Mendengarkan ungkapan saran, pertanyaan, dan kecemasan.
Menghadapi orang tua yang dengan tanpa ragu didepan forum menyatakan, “Setelah saya mendengar paparan para pimpinan ITTelkom, saya yakin pilihan anak saya untuk melanjutkan sekolah di sini tidak salah.”

Saya agak merinding.
Orang tua tua mahasiswa telah mempercayakan sekian tahun pengembangan anaknya kepada kita.
Sekian ribu mahasiswa telah menyatakan ingin bergabung dengan kafilah perjalanan kita.

Ini adalah amanah yang tidak ringan.

Saya agak merinding.
Jangan-jangan ITTelkom ini dipersepsikan sebagai institusi super yang tanpa kekurangan.
Semoga Allah membantu kita agar mau dan mampu memperbaiki yang masih kurang dan meningkatkan apa yang memang sudah baik.
.


Aug 11 2009

mereka tidak butuh belas kasihan

Kalaupun seringkali muncul keluhan “mahasiswa sekarang cenderung semakin manja”, menurut saya salah satu faktor pemicunya justru perlakuan kita (pengelola, dosen, staf admin, asisten dst.) kepada mereka.

Kita masih menggunakan paradigma ‘menyuapi’ saat berinteraksi dengan mereka. Kita masih menganggap mereka sebagai anak kecil yang harus selalu dibantu dalam menyelesaikan masalahnya.

Setiap kali mereka bertanya, selalu kita beri jawaban yang seolah-olah final, sehingga mereka merasa tidak perlu berupaya lagi untuk mencari kelengkapan atau jawaban yang lebih benar.
Setiap kali mereka terpojok karena tidak memperhatikan atau tidak taat aturan, segera saja kita tergopoh-gopoh menerbitkan kebijakan (yang kadang tidak bajik) untuk ‘menyelamatkan’ mereka. Dan lain-lain ’suapan’ untuk mereka.

Kita lakukan itu semua atas nama ‘kasihan’.

Menurut saya (mohon koreksi kalau saya salah), mereka tidak butuh belas kasihan!

Yang mereka butuhkan adalah kasih sayang dan suasana yang kondusif untuk mengembangkan potensi dirinya.

Suasana tentu saja terbentuk dari (antara lain): interaksi dengan orang-orang disekelilingnya (pengelola, dosen, staf admin, asisten, mahasiswa lain, penduduk di lingkungan kampus dll), aturan yang efektif, adil dan tersosialisasikan dengan baik, ketersediaan sarana & prasarana yang memadai, dan budaya lingkungan akademik & non-akademik.

Semua faktor tadi dibangun dengan landasan kasih sayang. Dengan paradigma kasih sayang, justru kita akan sedikit-demi sedikit mengurangi proses ‘menyuapi’. Kita akan perbanyak proses yang mengharuskan mereka secara aktif -dengan motivasi internal- berproses mengembangkan dirinya, sembari menyelesaikan masalah-masalah yang timbul sepanjang perjalanannya.

Bagaimana berbagi kasih sayang dan menciptakan suasana yang kondusif?
he..he.. sementara ini saya melarikan diri dulu dari sergapan pertanyaan seperti ini :-)

.


Aug 7 2009

diskusi kecil dengan UU 20 thn 2003

Saya ingin garis bawahi beberapa hal (dan berdiskusi kecil) dari kutipan UU no 20 thn 2003.

#1

… mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk …

Saya berasumsi lembaga penyelenggara pendidikan, pendidik dan peserta didik adalah entitas utama yang akan bersinergi untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik.
Jadi syarat utama agar pendidikan dapat berjalan baik adalah suasana belajar dan proses pembelajaran yang kondusif.

Kondusif untuk apa?
Kondusif agar peserta didik secara aktif bisa mengembangkan potensi dirinya.

Dari kalimat singkat di atas saja, setidaknya ada dua topik yang bisa didiskusikan cukup panjang.

Pertama, karena latar belakang, potensi, dan gaya belajar masing-masing peserta didik beragam, apakah itu berarti harus terbangun suasana belajar dan proses pembelajaran sejumlah tipe peserta didik?

Kedua, tanggung jawab terbesar dan aktifitas terbanyak seharusnya ada pada peserta didik, bukan pada pendidik. Peserta didik harus secara sadar dan aktif berupaya untuk mengembangkan potensi dirinya.
Tentu saja pada awalnya ada syarat bahwa peserta didik dibantu oleh pendidik untuk mengenali potensi dirinya berikut ditunjuki jalan untuk mengembangkan potensinya tersebut. Khusus untuk pendidikan tinggi, pendidik selayaknya menempatkan diri sebagai fasilitator dan katalisator bagi proses pengembangan potensi peserta didik.
Masalah besar kita adalah bagaimana menyadarkan dan memotivasi peserta didik dan pendidik untuk melakukan hal tersebut?

#2

… agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab …

Ternyata cukup banyak tujuan pendidikan (nasional).
Yang pertama tetap “iman dan takwa”.
“Berilmu dan cakap (terampil)” ternyata hanya sebagian saja dari keseluruhan tujuan.
Jadi tidak benar jika pendidikan hanya fokus pada pengetahuan dan ketrampilan agar lulusan bisa bekerja.

Menurut saya, pendidikan harus bersifat holistik, yang memungkinkan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas lebih baik, menuju manusia paripurna (insan kamil).

“Manusia paripurna” itu yang seperti apa? Bagaimana jalan mencapainya?

Mohon maaf, kapasitas saya belum cukup untuk menjawab pertanyaan itu.

.

{mungkin akan bersambung kapan-kapan}

.