Oct
1
2009
Kemarin sore saya mendapat undangan untuk ikut serta dalam acara pembekalan kontingen ITTelkom finalis geMasTIK 2009.
Saat WaRek 3 (Pak Imam) memberikan kesempatan kepada saya untuk berbicara, saya cuma tayangkan dua gambar via LCD projector.

Kepada para finalis saya katakan (tidak persis benar dengan yang terucap waktu itu),
“Ini adalah foto pemenang geMasTIK 2008, yang naik panggung dan menerima penghargaan pada acara penutupan.
…
Mulai detik ini saya ingin kalian membayangkan diri kalian adalah salah satu orang yang akan ada di atas panggung tersebut di acara penutupan geMasTIK 2009, berbisik syukur, tersenyum lebar, berteriak girang, sembari mengacungkan papan bertuliskan ‘Juara I’.
…
Mimpi tidak akan pernah jadi kenyataan tanpa usaha manusiawi dan spiritual.
Saya yakin persiapan kalian sudah 99%. Tidak mungkin tanpa persiapan dan kerja keras kalian bisa masuk final. Tapi masih ada 1% yang bisa menentukan hasil.
Masih ada sekian juta detik yang bisa dimanfaatkan untuk berbenah diri agar Tuhan melihat bahwa kita memang pantas dianugerahi medali emas.
…”

“Dengan izin Tuhan dan usaha kita, semoga tahun ini piala bergilir Samyakbya Padesa Widya masih akan tetap berada di kampus kita”
.
5 comments | posted in mahasiswa
Oct
1
2009
Dalam acara silaturahim YPT Group pasca lebaran kemarin, ada sejumlah (sekitar 30-an) pegawai YPT Group yang mendapat “penghargaan” masa kerja 10 tahun dan 15 tahun.
Dengan agak berseloroh, seorang teman mempertanyakan penggunaan istilah “penghargaan” dalam hal ini. Pertanyaan itu langsung disambut dengan jawaban spontan dari yang lain, “Perlu perjuangan yang tidak ringan untuk bisa bertahan tetap di YPT Group selama itu. Perjuangan dan keteguhan hati itulah yang mendapat penghargaan”.
Dengan menjunjung tinggi asas berbaik sangka, saya punya hipotesis bahwa sebagian besar -kalau tidak ingin menyebut ’semua’- pegawai di YPT Group adalah orang-orang yang memang memilih untuk bergabung dengan YPT Group. Menjadi pegawai YPT Group bukan karena keterpaksaan (karena tidak bisa diterima di tempat lain). Mereka ada di sini lebih didorong oleh idealisme. Idealisme tentunya akan berbuah loyalitas dan integritas.
Di sisi lain, ada pertanyaan pragmatis, “Apakah idealisme bisa dimakan? Bisa bayar sekolah anak? Bisa bayar cicilan rumah? dll.”
Semoga idealisme yang luhur tidak terjun bebas manakala dikonfrontasikan dengan basic need manusia.
Apa yang bisa menjamin hal ini tidak terjadi?
.
no comments | posted in ITTelkom